Jelajah Sisa Romawi di Turki

 Artikel ini telah dipublikasikan oleh Majalah Chic pada bulan Oktober 2011, halaman 108 – 112. Beberapa bagian ada yang telah diedit oleh editorial majalah Chic.

 http://chicmagz.com/read/1216/jelajahi-peninggalan-romawi-di-turki-bagian-1

Jelajah Sisa Romawi di Turki

                       

           Selama ini, kita hanya mengetahui Turki sebagai bagian dari perjalanan Islam dan banyak tempat-tempat bersejarah yang merupakan bagian perkembangan Islam itu sendiri. Hal ini dapat kita lihat dari bangunan bersejarah Aya Sofia yang merupakan sebuah gereja yang kemudian diubah menjadi mesjid utama masyarakat Turki oleh “Mehmet the Conquerror”. Lalu terdapat Blue Mosque dan Topkapi Palace yang juga bagian dari sejarah Islam di Turki. Namun, dalam artikel ini saya ingin memperlihatkan kepada para pembaca di Indonesia bahwa Turki tidak hanya memiliki sejarah islam saja tetapi masih banyak sejarah lainnya yang telah meninggalkan bangunan atau area yang juga dapat dikunjungi dan dinimakmati, salah satunya ialah peninggalan sejarah Romawi. Apabila anda sudah melihat film “TROY”, jangan berpikir bahwa kota ini terdapat di Yunani namun kota Troy berada di Turki bagian north Agean. Oleh karena itu, dalam perjalanan kali ini saya tidak membahas bangunan-bangunan peninggalan Islam melainkan peninggalan Romawi di Turki. Perjalanan ini saya lakukan selama 5 hari dari Istanbul ke wilayah South Aegean dan Western Anatolia yang merupakan Turki bagian Asia.

My travel mates

EFES (EPHESUS)

Tempat pertama yang saya kunjungi ialah Efes. Efes merupakan kota Romawi yang beradi di wilayah Selçuk. Untuk mencapai bangunan ini saya harus menggunakan bus malam dari Istanbul ke kota Selçuk (bagian dari South Aegean) seharga 45 Lira. Yang menarik dari bus antar kota di Turki, mereka memiliki free wi-fi dan memiliki semacam pramugari yang bertugas memberikan pelayanan kepada para penumpang. Sungguh berebeda dengan bus antar kota di Indonesia.

Efes merupakan sebuah kota peninggalan Romawi yang dikuasai oleh Romawi pada 88 SM dan terdapat Artemis Temple yang berukuran sangat besar yang merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Temple ini dibuat pada saat kekuasaan Alexander the Great. Di dalam Efes terdapat teater yang teater yang merupakan ciri khas dari peninggalan Romawi yang merupakan tempat para gladiator bertarung, toilet bangsa umum terutama bagi laki-laki di zaman Romawi, dan yang menarik ialah perpustakaan Celcus yang pada saat ini hanya tersisa bangunan depannya saja yang sekilas hamper mirip dengan bagunan Petra di Jordan yang merupakan salah satu tujuh keajaiban dunia. Sehingga apabila melihat postcard Efes, akan terlihat sama dengan postcard Petra di Jordan.

perpustakaan Celcus yang terisisa. Mirip dengan bangunan Petra di Jordan

Efes itu sendiri sangatlah luas. Terdapat tiga gerbang yakni The Magnessian Gate, The Koressos Gate dan the Harbor di mana pengunjung akan memulai dan mengakhiri kunjungan dalam gerbang yang berbeda. Untuk dapat masuk ke Efes, pengunjung harus membayar tiket seharga 20 Lira. Terdapat banyak pengunjung dari mancanegara yang khusus mengunjungi Efes untuk mendengarkan sejarah Romawi di wilayah itu. Pengunjung dapat membayar guide seharga 20 lira untuk dua orang. Karena saya tidak ingin membayar guide, maka saya mengikuti rombongan yang sudah memiliki guide dan ikut mendengarkan saat guide tersebut menceritakan sejarah bangunan tersebut, sehingga saya dapat menghemat pengeluaran saya. Pada saat saya mengunjungi bangunan ini, cuaca disana sangatlah panas sekitar 40 derajat celcius dan masalahnya tidak terdapat pepohonan yang melindungi diri kita dari sengat panas.

Bangunan – bangunan yang tersisa di Ephasus

Setelah melakukan perjalan di Efes selama 4 jam, saya kembali ke hotel saya di Selçuk. Karena saya memakai kamar dorminotory, maka saya hanya membayar 1 kasur saya yakni seharga 15 lira. Sesampainya di hotel, saya berenang untuk menyegarkan tubuh yang terpanggang di Efes dan memakan buah semangka. Turki terkenal dengan semangkanya, dan mengekspornya ke negara-negara tetangganya. Semangka disini seharga 2 lira satu buah yakni kira-kira seharga 13.000 rupiah.

 

KUSADAŞI

            Kota kedua yang saya datangi ialah Kusadşi. Kuşadasi hanya berjarak 30 menit dari kota Selçuk dan dapat menggukan  dolmus semacam angkot di Indonesia untuk mencapainya dengan biaya sebesar 4 lira. Di kota ini saya tinggal di Panaroma Otel dengan harga 35 lira untuk satu kamar yang berisi tiga kasur. Yang menarik ialah hotel ini memberikan fasilitas penjeputan di tempat dolmus saya berhenti tanpa harus membayar apapun. Dengan biaya yang murah namun saya mendapatkan fasilitas yang bagus. Fasilitas ini hampir dilakukan oleh seluruh bughet hotel di wilayah ini.

            Mengapa saya memasukan Kusadaşi dalam bagian perjalanan saya untuk melihat peninggalan Romawi di Turki. Hal ini dikarenakan bahwa dengan melihat bagunan dan tata kota wilayah ini, Kuşadasi sangatlah mirip dengan bangunan-bangunan di Yunani di mana bangunanannya berbentuk kotak-kotak di bukit-bukit dan dipinggir pantai. Hal tersebut tidak mengherankan karena Kusadaşi sangatlah dekat dengan Yunani di mana pengunjung dapat menggunakan boat ke Yunani dalam hitungan jam seharga 35 euro, bahkan pengunjung dapat melakukan one day trip ke Pulau Samos yang merupakan bagian dari wilayah Yunani. Dengan jarak yang berdekatan tidak heran apabila bangunan-bangunan di Kusadaşi sangatlah mirip dengan bangunan di Yunani.

Pemandangan cantik Kusadaşi

            Di Kusadaşi saya berenang di lautan lepas yang tidak memiliki pasir, dapat dikirakan sedalam 30 meter. Hal ini tentu saja menakutkan terutama karena ombak yang besar dan tidak ada “pantai”, sehingga apabila tenggelam akan sulit diselamatkan. Namun, tentu saja hal tersebut sangatlah menyenangkan. Airnya berwarna biru dan sangat bersih. Karena tidak memiliki pantai, saya harus pergi ke sebuah cafe di pinggir laut yang menyediakan payung untuk berjemur seharga 10 lira dan disana terdapat tangga menuju laut sehingga saya bisa berenang di laut. Pada malam hari, Kusadaşi sangatlah ramai. Terdapat banyak club yang dapat dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati dunia malam. Di Kuşadasi saya memesan Lahmacun yang merupakan pizza tipis ala turki dan juga kebap. Yang menyenangkan, saya mendapatkan makanan pembuka secara gratis di restoran tersebut. Selain itu, terdapat bazaar yang menyediakan barang-barang khas Turki yang dapat dikunjungi untuk membeli oleh-oleh untuk teman ataupun keluarga. Kusadaşi merupakan tempat untuk beristirahat dan menikmati laut. Karena keindahannya, tidaklah heran banyaknya pengunjung dari negara lain yang menikamti waktu liburnya di Kusadaşi. Kota ini akan penuh pada saat terdapat kapal pesiar yang merapat di pelabuhan Kusadaşi.

Ma, Fer, and beautiful view of Kusadaşi

PAMMUKALE & HIERAPOLIS

Untuk mencapai Pamukkale dan Hierapolis, saya harus menggunakan bus dari Kusadaşi menuju kota Denizli. Biaya yang saya keluarkan ialah sebesar 20 Lira. Karena saya telah membooking hotel di Artamis Hotel seharga 10 lira untuk satu kasur, maka saya mendapatkan fasilitas penjemputan gratis di terminal bus. mereka menunggu saya di terminal bus dan mengantarkan saya ke hotel dengan mobil dalam waktu hampir 20 menit. Kota Denizli itu sendiri tidaklah besar dan juga sangat gersang dan jarang sekali pepohonan. Saya tidak yakin dapat hidup disana karena saya sekali tidak melihat terdapat pepohonan yang melindungi saya dari sengatan matahari.

Bus Wifi ke Pamukkale

Pamukkale sendiri terkenal dengan air yang kaya dengan kalsium yang dikenala dengan travertines dimana terdapat beberapa kolam bertingkat-tingkat. Pada tahun 1988, UNESCO menjadikan Pamukkale menjadi salah satu dari wold heritage. Hal ini dilakukan untuk menjaga Pamukkale dari kerusakan karena jutaan pengunjung yang ingin menikmati air kalsium Pamukkale. Apabila dilihat sekilas, Pamukkale travertines sepert sebuah bukit yang dipenuhi salju karena berwarna putih. Namun, jangan berharap bahwa Pamukkale berhawa dingin, sebaliknya pada musim panas, suhu di Pamukkale sangatlah tinggi yang mudah membuat kulit terbakar. Oleh karena itu jangan heran apabila para pengunjung hanya menggunakan bikini di Pamukkale travertines.

Pemandangan Pamukkale dari Bawah..seperti Gunung bersalju

Pamukkale sendiri merupakan kota kecil yang dapat dikelilingi dengan berjalan kaki. Namun untuk masuk ke obyek wisatanya yakni Pamukkale travertines dan Hierapolis harus menggunakan mobil ke gate masuknya apabila kita menggunakan jalur Hierapolis-Pammukkale travertines. Kolam  Travertines yang berundak-undak seperti salju berbukit-bukit merupakan ciri khas dari Pamukkale ini. Untuk melihat dari bawah, pengunjung tidak harus masuk ke obyek wisatanya. Hanya dengan duduk di pusat kota Pamukkale dekat dengan air mancur yang besar, saya dapat melihat haparan bukit putih di depan mata saya. Banyak teman saya yang kaget melihat foto saya yang menggunakan celana pendek dengan panorama bukit seperti penuh salju di belakang saya karena mereka mengira saya terdapat di pengunangan bersalju, padahal itu merupakan bukit yang penuh kalsium dan sangatlah panas cuacanya.

Pengunjung menggunakan bikini karena cuaca yang sangat panas

Hierapolis sendiri merupakan peninggalan dari Romawi Kristen yang memiliki berbagai macam kuil. Pada saat memasuki pintu masuk, saya melewati Necropolis atau komplek pemakaman yang telah rusak akibat gempa bumi. Selain itu, terdapat beberapa museum yang menyimpan berbagai macam peninggalan bersejarah yang terdapat di kota Hierapolis. Saya juga mengunjungi teater yang sangat besar dimana para gladiator bertarung. Namun untuk mencapai teater ini saya harus berjalan ke atas bukit yang sangat melelahkan terutama pada saat cuaca yang sangat panas dan tidak terdapat tempat untuk berteduh. Yang menarik di kota Hierapolis ini terdapat Kolam Antik yang dapat membersihkan diri karea terdapat mineralnya di dalam. Pengunjung dapat berenang di kolam antik tersebut namun harus mengeluarkan uang sebanyak 18 Lira.

Kolam Antik di Pamukkale

Tidak berbeda dengan Efes, untuk mengunjungi Pamukkale dan Hierapolis, pengunjung harus masuk dan keluar dari gate yang berbeda dan untuk masuk ke gate utama, saya harus menggunakan  mobil yang dapat menagantarkan saya kesana. Harga tiket masuk ke Pamukkale seharga 20 Lira, namun karena saya menggunakan Tour maka saya membayar 40 Lira untuk biaya transportasi, tiket, guide, dan lunch. Mengelilingi Pamukkale dan Hierapolis memerlukan waktu berjam-jam, saya memulainya dair pukul 10.00 hingga pukul 16.00.

Ketiga tempat ini menyadarkan saya bahwa Turki sangatlah kaya akan sejarah. Lokasi yang berada di antara dua benua yakni Eropa dan Asia membuat Turki menjadi suatu wilayah “panas” yang ingin dimiliki oleh kerajaan-kerajaan yang eksis pada jamannya yang menyebabkan banyaknya peninggalan-peninggalan bersejarah di Turki dengan ragam yang berbeda. Perjalanan saya diakhiri dengan kembalinya saya ke Kota Istanbul menggunakan bus antar kota dengan menghabiskan biaya sebanyak 45 euro dengan menghabiskan waktu selama 12 jam dari Denizli.

2 thoughts on “Jelajah Sisa Romawi di Turki

  1. Pingback: Istanbul: Kota Dua benua « dreaminginsane

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s